Minggu, 01 Januari 2012

Kesan-kesan belajar dengan Bapak Elwahyudi Panggabean

Di awal semester 3 tepatnya bulan agustus, saya mendapati satu mata kuliah yang menurut saya tidak biasa yaitu menulis. Yang terpikir di benak saya waktu itu adalah seperti apa model pembelajarannya, apakah mata kuliah ini selalu hanya menulis saja di kertas seperti mencatat atau menulis apa saja tanpa ada penjelasan ataupun menerangkan. Lucu ya, tapi itulah yang membuat saya makin penasaran untuk segera mempelajarinya.
Nah, pada awal pertemuan mata kuliah menulis saya langsung bertatap muka dengan sang dosen yaitu Bapak Elwahyudi. Kesan pertama yang saya rasakan bertemu dengan pak el adalah seorang dosen yang galak, tempramen, ditambah lagi dengan pandangan pak el yang cukup membuat saya ngeri karena tatapan matanya yang tajam. Tetapi semua dugaan saya salah ketika pak el mulai memperkenalkan dirinya kepada saya dan teman-teman yang lain.
Di hari pertama masuk pak el tidak langsung membahas materi, tetapi lebih kepada sebuah cerita untuk lebih mengakrabkan diri ke mahasiswa. Pak el menuliskan biodata nya di papan tulis, mulai dari nama hingga email. Nama lengkap beliau adalah Drs. Elwahyudi Panggabean yang akrab disapa pak el oleh mahasiswa. Di sepanjang perkenalan pak el juga menceritakan kehidupannya sehari-hari yang ternyata juga pernah menjadi wartawan. Setelah mendengar semua cerita pak el saya mulai terkesan dan kagum dengan sosok pak elwahyudi.
Waktu pun berlalu, memasuki pertemuan selanjutnya barulah saya sadar ternyata pak el dosen yang menyenangkan dan suka humor. Beliau bisa membuat suasana belajar menjadi tidak membosankan. Guyonan lucunya membuat kami tertawa dan terhibur. Di samping itu, beliau juga jarang sekali marah bahkan tidak pernah, sekalipun ada mahasiswa yang terlambat hingga 1 jam. Salut deh sama pak el…
Di akhir-akhir pertemuan beliau sering terlambat masuk. Tapi entah mengapa  saya tidak ada merasakan kekesalan atau marah. Saya tahu beliau sangat sibuk dan banyak urusan yang harus diselesaikannya. Saya juga percaya bahwa beliau dosen yang profesional dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Pada saat perpisahan dengan beliau saya merasa sedih, sepertinya  masih kurang apa yang diberikannya kepada saya. Tapi yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan. Terima kasih ya pak atas ilmu-ilmu yang telah diberikan, semoga bermanfaat buat saya. Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi di mata kuliah lainnya. Amin.

1 komentar:

  1. Rezeki terbesar yang saya terima dalam hidup adalah: membaca tulisan seseorang tentang saya. Sebagai manusia biasa, dengan segala keterbatasan, saya membaca tulisan Ananda dengan haru. saya sangat senang dan terhibur, karena tulisan Ananda adalah rezeki terbesar yang saya terima saat membacanya. Tks Ananda. Selamat belajar, selamat berkarya. Saya doakan...(selalu)

    BalasHapus